Detail Buku
Togamas Ecommerce Yang Tersisa Dari Amuk Api (kumpulan Puisi)

“Dalam puisi-puisi Nanda Alifiya Rahmah, aku-liris menjadi narator yang mengartikulasikan dialektikanya dengan manusia, makhluk lain seperti binatang dan makhluk gaib, alam, galaksi, dan berbagai benda di sekitarnya dengan latar kota yang membentuk budaya urban hingga wilayah pinggiran sampai jagat semesta. Dari dialektika itu, kita tahu sang-persona-aku itu terus mengonstruksi dan mengidentifikasi identitas dirinya yang terus berubah-rubah. Meskipun bentuk puisi prosa begitu mewarnai puisi-puisi Nanda, bangunan puitika dalam puisi-puisi Nanda begitu kental dengan personifikasi, metafora, pengulangan kata dan frase, namun tak terkungkung struktur rima yang membosankan. Bangunan puitika ini terasa dibutuhkan dalam puisi-puisi Nanda demi menyelam secara simbolik ke dalam hal yang absurd, eksistensial, hingga metafisis yang tak mudah dicerna.”

— YUSRI FAJAR, Sastrawan dan Dosen FIB UB

“Persajakan modern yang dirintis Toety Heraty dalam membahasakan perempuan Indonesia membentangkan dua jalur: "cadas-gahar" dan "alus-rapi". Jalur "cadas-gahar" ini coba dilalui oleh Oka Rusmini dan Dorothea Rosa Herliani. Sementara jalur "alus-rapi" coba dilalui oleh Cyntha Hariadi, Anis Sayidah, Gratiagusti Chananya Rompas dan kebanyakan penyair saat ini. Uniknya, kehadiran sajak-sajak Nanda Alifiyah Rahmah adalah upaya mempertemukan (kembali) dua jalur itu. Tentu dengan variasi (yang berbeda dari Toety) yang lebih aduhai.

— F. AZIZ MANNA, Penyair

9786237283904 47700
Yang Tersisa Dari Amuk Api (kumpulan Puisi)
47700

“Dalam puisi-puisi Nanda Alifiya Rahmah, aku-liris menjadi narator yang mengartikulasikan dialektikanya dengan manusia, makhluk lain seperti binatang dan makhluk gaib, alam, galaksi, dan berbagai benda di sekitarnya dengan latar kota yang membentuk budaya urban hingga wilayah pinggiran sampai jagat semesta. Dari dialektika itu, kita tahu sang-persona-aku itu terus mengonstruksi dan mengidentifikasi identitas dirinya yang terus berubah-rubah. Meskipun bentuk puisi prosa begitu mewarnai puisi-puisi Nanda, bangunan puitika dalam puisi-puisi Nanda begitu kental dengan personifikasi, metafora, pengulangan kata dan frase, namun tak terkungkung struktur rima yang membosankan. Bangunan puitika ini terasa dibutuhkan dalam puisi-puisi Nanda demi menyelam secara simbolik ke dalam hal yang absurd, eksistensial, hingga metafisis yang tak mudah dicerna.”

— YUSRI FAJAR, Sastrawan dan Dosen FIB UB

“Persajakan modern yang dirintis Toety Heraty dalam membahasakan perempuan Indonesia membentangkan dua jalur: "cadas-gahar" dan "alus-rapi". Jalur "cadas-gahar" ini coba dilalui oleh Oka Rusmini dan Dorothea Rosa Herliani. Sementara jalur "alus-rapi" coba dilalui oleh Cyntha Hariadi, Anis Sayidah, Gratiagusti Chananya Rompas dan kebanyakan penyair saat ini. Uniknya, kehadiran sajak-sajak Nanda Alifiyah Rahmah adalah upaya mempertemukan (kembali) dua jalur itu. Tentu dengan variasi (yang berbeda dari Toety) yang lebih aduhai.

— F. AZIZ MANNA, Penyair

98 Pelangi Sastra Indonesia< 9786237283904

Yang Tersisa Dari Amuk Api (Kumpulan Puisi)

Nanda Alifya Rahmah
Rp. 53.000
Rp. 47.700

DESKRIPSI

“Dalam puisi-puisi Nanda Alifiya Rahmah, aku-liris menjadi narator yang mengartikulasikan dialektikanya dengan manusia, makhluk lain seperti binatang dan makhluk gaib, alam, galaksi, dan berbagai benda di sekitarnya dengan latar kota yang membentuk budaya urban hingga wilayah pinggiran sampai jagat semesta. Dari dialektika itu, kita tahu sang-persona-aku itu terus mengonstruksi dan mengidentifikasi identitas dirinya yang terus berubah-rubah. Meskipun bentuk puisi prosa begitu mewarnai puisi-puisi Nanda, bangunan puitika dalam puisi-puisi Nanda begitu kental dengan personifikasi, metafora, pengulangan kata dan frase, namun tak terkungkung struktur rima yang membosankan. Bangunan puitika ini terasa dibutuhkan dalam puisi-puisi Nanda demi menyelam secara simbolik ke dalam hal yang absurd, eksistensial, hingga metafisis yang tak mudah dicerna.”

— YUSRI FAJAR, Sastrawan dan Dosen FIB UB

“Persajakan modern yang dirintis Toety Heraty dalam membahasakan perempuan Indonesia membentangkan dua jalur: "cadas-gahar" dan "alus-rapi". Jalur "cadas-gahar" ini coba dilalui oleh Oka Rusmini dan Dorothea Rosa Herliani. Sementara jalur "alus-rapi" coba dilalui oleh Cyntha Hariadi, Anis Sayidah, Gratiagusti Chananya Rompas dan kebanyakan penyair saat ini. Uniknya, kehadiran sajak-sajak Nanda Alifiyah Rahmah adalah upaya mempertemukan (kembali) dua jalur itu. Tentu dengan variasi (yang berbeda dari Toety) yang lebih aduhai.

— F. AZIZ MANNA, Penyair

DETAIL BUKU

Penerbit : Pelangi Sastra
Tahun : 2020
Halaman : 98
Berat : 300 Gram
Dimensi : 14 x 21 Cm
Bahasa : Indonesia
Cover : Soft
ISBN/EAN : 9786237283904
  • A Good Man is Hard to Find (Sulitnya Menemukan Orang Baik)
    Flannery O Connor
    Rp. 60.000
    Rp. 54.000
  • Tukang Sulap Itu Menghilangkan Panciku
    Ernest Hemingway, dkk.
    Rp. 110.000
    Rp. 99.000
  • Saksi Kata (18 Esai Sastra)
    Arif Bagus Prasetyo
    Rp. 80.000
    Rp. 72.000
  • Almustafa
    Kahlil Gibran
    Rp. 49.000
    Rp. 44.100
  • Hal Yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku
    J.S. Khairen
    Rp. 110.000
    Rp. 88.000
  • Kita Dalam Tumpukan Kata
    Sesakata
    Rp. 99.000
    Rp. 89.100
  • Buku Minta Disayang
    Rintik Sendu
    Rp. 79.000
    Rp. 71.100
  • Sepotong Hati Di Angkringan
    Joko Pinurbo
    Rp. 70.000
    Rp. 63.000

RATING DAN ULASAN

RATING PELANGGAN

  • |
  • 0 dari 5
Berdasarkan 0 Peringkat & Ulasan
Rekomendasi
0
Sangat Puas
0
Puas
0
Di Bawah Rata-Rata
0
Tidak Puas
0