Detail Buku
Togamas Ecommerce Sang Mujtahid Islam Nusantara

Paska rontoknya Khilafah Islam Turki Usmani dan ketika Nusantara memasuki masa genting kehidupan keberagamaan dan kebangsaan, seorang bayi lahir ke dunia pada tahun 1914, bernama Abdul Wahid, putra Hasyim Asyari. Sejak bayi, dia telah menunjukkan ‘mukjizat-mukjizat kecil’ yang tidak pernah dimiliki anak pada umumnya. Menginjak usia remaja, jiwanya seperti terbakar oleh api dahaga akan ilmu pengetahuan. Keputusannya untuk mengembara, mengaji dari satu guru ke guru lain, belajar dari satu pesantren ke pesantren lain, tidak bisa dihalang-halangi. Puncaknya, ia merasa harus terus mengembara ke dunia yang lebih luas, Timur Tengah.

Bagaimana lika-liku Wahid Hasyim dalam memperjuangkan persatuan Islam, berusaha mempertemukan pemikiran keagamaan dan kebangsaan dari para ulama-ulama elite saat itu? Bagaimana pula usaha musuh-musuhnya, baik Belanda, Jepang, maupun orang-orang pribumi, menghentikan langkah perjuangannya mewujudkan persatuan Indonesia? Satu hal yang penting lagi, sejarah mencatat, bangkitnya kekuatan militer pribumi berawal dari kesuksesan taktik Abdul Wahid Hasyim memanfaatkan kecerobohan bangsa kolonial Nippon (Jepang). Dialah sosok kiai otodidak, kritis, moderat, pemersatu bangsa, ‘penasihat militer’ Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan ayah dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Novel ini mengisahkannya dengan sangat detail dan hidup.

9786027926271 95865
Sang Mujtahid Islam Nusantara
95865

Paska rontoknya Khilafah Islam Turki Usmani dan ketika Nusantara memasuki masa genting kehidupan keberagamaan dan kebangsaan, seorang bayi lahir ke dunia pada tahun 1914, bernama Abdul Wahid, putra Hasyim Asyari. Sejak bayi, dia telah menunjukkan ‘mukjizat-mukjizat kecil’ yang tidak pernah dimiliki anak pada umumnya. Menginjak usia remaja, jiwanya seperti terbakar oleh api dahaga akan ilmu pengetahuan. Keputusannya untuk mengembara, mengaji dari satu guru ke guru lain, belajar dari satu pesantren ke pesantren lain, tidak bisa dihalang-halangi. Puncaknya, ia merasa harus terus mengembara ke dunia yang lebih luas, Timur Tengah.

Bagaimana lika-liku Wahid Hasyim dalam memperjuangkan persatuan Islam, berusaha mempertemukan pemikiran keagamaan dan kebangsaan dari para ulama-ulama elite saat itu? Bagaimana pula usaha musuh-musuhnya, baik Belanda, Jepang, maupun orang-orang pribumi, menghentikan langkah perjuangannya mewujudkan persatuan Indonesia? Satu hal yang penting lagi, sejarah mencatat, bangkitnya kekuatan militer pribumi berawal dari kesuksesan taktik Abdul Wahid Hasyim memanfaatkan kecerobohan bangsa kolonial Nippon (Jepang). Dialah sosok kiai otodidak, kritis, moderat, pemersatu bangsa, ‘penasihat militer’ Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan ayah dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Novel ini mengisahkannya dengan sangat detail dan hidup.

608 Mizan Indonesia< 9786027926271

Sang Mujtahid Islam Nusantara

Aguk Irawan
Rp. 110.000
Rp. 95.865
  • QTY:

DESKRIPSI

Paska rontoknya Khilafah Islam Turki Usmani dan ketika Nusantara memasuki masa genting kehidupan keberagamaan dan kebangsaan, seorang bayi lahir ke dunia pada tahun 1914, bernama Abdul Wahid, putra Hasyim Asyari. Sejak bayi, dia telah menunjukkan ‘mukjizat-mukjizat kecil’ yang tidak pernah dimiliki anak pada umumnya. Menginjak usia remaja, jiwanya seperti terbakar oleh api dahaga akan ilmu pengetahuan. Keputusannya untuk mengembara, mengaji dari satu guru ke guru lain, belajar dari satu pesantren ke pesantren lain, tidak bisa dihalang-halangi. Puncaknya, ia merasa harus terus mengembara ke dunia yang lebih luas, Timur Tengah.

Bagaimana lika-liku Wahid Hasyim dalam memperjuangkan persatuan Islam, berusaha mempertemukan pemikiran keagamaan dan kebangsaan dari para ulama-ulama elite saat itu? Bagaimana pula usaha musuh-musuhnya, baik Belanda, Jepang, maupun orang-orang pribumi, menghentikan langkah perjuangannya mewujudkan persatuan Indonesia? Satu hal yang penting lagi, sejarah mencatat, bangkitnya kekuatan militer pribumi berawal dari kesuksesan taktik Abdul Wahid Hasyim memanfaatkan kecerobohan bangsa kolonial Nippon (Jepang). Dialah sosok kiai otodidak, kritis, moderat, pemersatu bangsa, ‘penasihat militer’ Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan ayah dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Novel ini mengisahkannya dengan sangat detail dan hidup.

DETAIL BUKU

Penerbit : Mizan
Tahun : 2016
Halaman : 608
Berat : 500 Gram
Dimensi : 15 x 23 Cm
Bahasa : Indonesia
Cover : Soft
ISBN/EAN : 9786027926271